4/18/2009

Cerita Pendek ( Cerpen ) Kakek Dan Pencuri Pepaya

Hallo sobat! Apa kabar nih? Semoga selalu dalam keadaan baik ya! Di ahad pertama bulan februari ini pastinya udah banyak ngelakuin acara yang cukup melelahkan. Nah kali ini gue bakal bagiin kisah pendek di blog butut. Gue Dunia Mimpi ini. Seperti apa ceritanya? Langsung dibaca dibawah daripada penasaran.

Di sebuah desa yang asri hiduplah seorang kakek dan istrinya, mereka ialah keluarga sederhana. Mereka hidup sebagai petani untuk menyambung kehidupan. Mereka tinggal di sebuah rumah yang sederhana. Meskipun begitu mereka tetap senang dan bersyukur terhadap apa yang mereka miliki. 

Sang kakek ialah orang yang rajin dan giat dalam bekerja. Meski ia telah mencapai usia yang sepuh semangatnya untuk terus bekerja tak pernah surut. Terik matahari sudah jadi hal yang biasa baginya yang setiap hari bertani. Ia juga orang yang rajin beribadah, setiap hari kakek ini tak pernah luput untuk pergi ke surau yang letaknya tak jauh dari rumahnya. 

Pada suatu ketika sang kakek menanam sebuah pohon pepaya di halaman rumahnya. Ia merawat pohon pepaya yang ia tanam itu dengan baik. Hari demi hari berlalu dan kesudahannya tibalah dikala pohon pepaya yang ditanamnya berbuah. Pepaya itu mempunyai dua buah yang sudah menguning sebagai tanda hampir masak. Setiap hari sang kakek melihat dan menunggu waktu buah pepaya itu sanggup dipetik. 

Pada suatu pagi sang kakek mendapati buah pepaya miliknya hanya tinggal satu, ternyata pepaya yang ia tunggu untuk dipetik itu telah dicuri orang. Sang kakek terlihat muram dan amat duka mendapati kenyataan bahwa pepayanya telah hilang dicuri. Istrinya yang heran sebab sang kakek terlihat sangat duka pun bertanya pada sang kakek. 

Nenek:
"Suamiku mengapa engkau begitu bersedih hanya sebab kehilangan pepaya?"

Kakek:
(Diam sejenak kemudian mulai berkata perlahan) 
"Duhai istriku, taukah engkau betapa sulitnya pencuri itu mengambil buah pepaya kita? 

Nenek:
(Bingung mendengar balasan yang diberikan suaminya)
Mengapa ibarat itu? 

Kakek:
Coba engkau bayangkan pencuri itu harus mengendap-endap di gelapnya malam, supaya tidak ada orang yang tau dikala mengambil buah pepaya kita. Belum lagi ia harus memanjat pohon pepaya itu dalam kegelapan.

Nenek:
(Semakin resah dengan balasan suaminya, ia menghela nafas)
Lalu bagaimana? 

Kakek:
Aku akan memberi tangga di puhon pepaya itu, supaya kalau nanti malam pencuri itu tidak kesulitan memetik pepaya itu. 

Sang kakek segera mengambil tangga dan meletakkannya di pohon pepayanya. Ia berharap sang pencuri akan tiba kembali dan tidak akan kesulitan untuk memetik pepayanya. 

Malam berlalu dan matahari pagi yang cerah telah bersinar, tapi sang kakek kecewa dan duka sebab buah pepayanya masih utuh. Ternyata pencuri itu tak datang. Sang kakek berfikir mungkin saja nanti malam pencuri itu akan datang. Namun keesokan harinya sang kakek mendapati pepayanya masih ada, itu artinya sang pencuri tak datang. Sang kakek masih berharap pencuri itu tiba di malam berikutnya. Pagi kembali menyapa tapi lagi-lagi pencuri itu tak datang. 

Saat sang kakek masih duduk bersantai di teras rumahnya, tiba-tiba ada seorang laki-laki tiba bertamu ke rumahnya. Pria yang abnormal bagi sang kakek sebab ia gres pertama kali melihat laki-laki itu. Sang kakek menyambut laki-laki itu dengan hangat dan mengajaknya duduk. Pria itu membawa sebuah pepaya besar untuk sang kakek. Mereka pun mengobrol cukup lama. 

Setelah mengobrol cukup usang kesudahannya tamu tersebut berpamitan pulang ke kakek. 
Tamu:
Saya pulang dulu pak!

Kakek:
Oh ya nak! Hati-hati di jalan, kapan-kapan mampir lagi kesini! 

Tamu:
Sebelum saya pulang saya ingin menyampaikan sesuatu kepada bapak. 

Kakek:
Ya, silahkan! 

Tamu:
(Wajahnya pucat dan sambil bergetar ia mulai berkata) 
Maafkan saya pak! Sebenarnya sayalah yang mencuri buah pepaya bapak. 

Kakek:
(Kaget mendengar yang dikatakan laki-laki itu)
Apa itu benar? 

Tamu:
Sebenarnya pada malam berikutnya saya kembali kesini untuk mencuri lagi, tapi saya melihat ada tangga di bawah pohon pepaya itu. 
(Ia membisu sejenak) 
Saat itu saya pribadi sadar dengan kesalahan saya dan dikala itu juga saya bertaubat. Saya telah berjanji pada diri saya untuk tidak lagi mencuri. 

Kakek:
(Tersenyum kemudian mendekati laki-laki itu dan menepuk pundaknya pelan) 
Alhamdulillah, Allah telah memberi hidayah kepadamu.

Tamu:
Maafkan saya pak! 

Kakek:
Saya sudah memaafkanmu, semoga kau diberikan ampunan dan limpahan kasih sayang dari Allah. 
(Keduanya berpelukan dan tersenyum bahagia) . 

Semoga bermanfaat dan ada pesan yang tersirat yang sanggup dipetik dari kisah ini. Baca juga Tips Memilih Perguruan Tinggi dan Tips Memilih Jurusan Kuliah yang Tepat.  
Comments

Add Your Comment
EmoticonEmoticon