Fungsi Komunikasi Nonverbal
Mark L Knapp mengemukakan istilah nonverbal biasanya dipakai untuk melukiskan semua insiden komunikasi diluar kata-kata terucap atau tertulis. Pada dikala yang sama kita harus menyadari bahwa banyak insiden dan sikap nonverbal ini ditafsirkan melalui simbol-simbol verbal.
Mark L. Knapp, menyebut lima fungsi pesan nonverbal dihubungkan dengan pesan verbal:
- Repetisi (repeating), ialah mengulang kembali gagasan yang sudah disajikan secara verbal.
- Substitusi, ialah menggantikan lambang-lambang verbal.
- Kontradiksi, menolak pesan mulut atau memberi makna yang lain terhadap pesan verbal.
- Complementing, ialah melengkapi dan memperkaya makna pesan nonverbal.
- Aksentuasi/accenting/menekannkan, ialah menegaskan pesan mulut atau menggarisbawahinya.
Paul Ekman menyebutkan lima fungsi pesan nonverbal, ibarat yang sanggup dilukiskan dengan sikap mata, sebagai berikut:
- Emblem, gerakan mata tertentu merupakan simbol yang mempunyai kesetaraan dengan simbol verbal. Seperti kerlingan mata kepada seseorang yang sanggup menyampaikan “saya sedang menarik hati anda”
- Ilustrator, pandangan kebawah sanggup menyampaikan deperesi atau kesedihan
- Regulator, kontak mata berarti terusan percakapan terbuka. Memalingkan muka berarti ketidaksediaan berkomunikasi.
- Penyesuai, kedipan mata yang cepat meningkat ketika seseorang berada dalam tekanan. Hal ini merupakan respon badan yang tidak disadari yang merupakan upaya badan untuk mengurangi kecemasan.
- Affect display, pembesaran manik mata (pupil dilation) menyampaikan peningkatan emosi. Isyarat wajah lainnya menyampaikan perasaan takut, terkejut, atau senang.
Pentingnya komunikasi nonverbal kadang tidak kita sadari. Padahal komunikasi nonverbal mengambil bab 70 persen lebih banyak dari komunikasi verbal. Sebelum akad bahasa sebagai komunikasi verbal. Komunikasi secara nonverbal telah berlangsung terlebih dahulu. Saat ini secara tidak sadar komunikasi mulut telah mengalir dalam komunikasi kita sehari-hari dalam berperilaku.
