11/13/2014

Mencari Dan Mengamalkan Ilmu

 Mungkin banyak orang menjawab tujuan pendidikan ialah untuk mencari ilmu Mencari Dan Mengamalkan Ilmu
Apa tujuan pendidikan yang sebenarnya? Mungkin banyak orang menjawab tujuan pendidikan ialah untuk mencari ilmu. Tapi remaja kini, kita sering mendengar istilah mencari nilai atau sekedar formalitas untuk mendapat ijazah.
Banyak hal yang harus dipikirkan ketimbang sekedar nilai atau ijazah. Salah satunya yaitu pengaplikasian dari ilmu yang didapat, itulah yang lebih penting. kemuliaan orang yang menuntuk ilmu terletak pada pengaplikasianya. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW  mengingatkan kita akan pentingnya keluar dari kebodohan, juga mengamalkan ilmu yang telah dipelajari. Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak pantas bagi orang yang kurang pintar itu membiarkan kebodohanya, dan tidak pantas pula orang yang cerdik mendiamkan ilmunya.” 
(HR. Thabrani)
Dari hadits diatas kita mengetahui bahwa mencari dan mengamalkan ilmu itu sama-sama penting. Bahkan dalam hadits yang lain Rasulullah SAW menegaskan wacana pentingnya mengamalkan ilmu:
“Belajarlah kalian semua ilmu yang kalian inginkan maka demi Allah tidak akan diberikan pahala kalian lantaran mengumpulkan ilmu sehingga kau mengamalkanya.”
(HR. Abu Hasan)

Namun terkadang ada yang merasa, takut untuk mencar ilmu dengan alasan nanti kalau kita mencar ilmu maka hasilnya kita menjadi tau kemudian takut tidak bisa mengamalkan ilmu yang kita pelajari tersebut. Oleh lantaran itu, kita beranggapan bahwa lebih baik tidak usah belajar, lebih baik bodoh, daripada mencar ilmu dan tau banyak ilmu, tapi kalau tidak bisa mengamalkan hanya akan sia-sia. Seolah-olah anggapan menyerupai ini memang benar, namun tidak sepenuhnya benar.

Perlu kita ketahui, yang dimaksud dengan orang yang tidak mengamalkan ilmu ialah orang yang memang niat awal ia mencar ilmu dan mencari ilmu bukan untuk diamalkan. Misalnya niat mencar ilmu hanya untuk dipamerkan, menyombongkan diri, untuk menipu orang lain, dan niat-niat jelek lainnya. Kalau memang niatnya menyerupai itu natnya, maka hanya akan membawqa kita kepada keburukan.

Pengamalan ilmu itu ada dua macam, yaitu: Pertama, mengamalkanya dalam bentuk perbuatan. Kedua, dengan mengajarkanya kepada orang lain. Jika mempunyai ilmu dan sudah mau mengajarkan ilmu tersebut kepada orang lain, namun kita belum bisa mengaplikasikan ilmu tersebut untuk diri sendiri, bukan lantaran tidak mau, tapi mungkin lantaran belum bisa atau adanya kendala sehingga kita belum bisa mengamalkannya.setidaknya kita mengamalkan "sebagian" ilmunya dengan mengajarkan ya. Harapannya, kalau orang yang ia ajari tadi sudah bisa mempraktekkan ilmu yang kita ajarkan, hal itu akan menjadi cambuk bagi kita untuk berusaha keras mengamalkannya.

Sebagai contoh, contohnya kita mengetahui bagaimana melakukan ibadah haji beserta hukum-hukumnya, kemudian ada orang yang bertanya kepada kita wacana ibadah haji, apakah untuk mengajarkannya kita harus menunggu hingga kita bisa mempraktekkannya terlebih dahulu? Tentu tidak bukan.

Kuncinya ada pada niat. Berniat untuk mengamalkan apa yang belum bisa diamalkan sewaktu ada kesempatan. Sebab dalam sebuah hadis disebutkan: 

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .



Artinya:

”Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) menurut apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya lantaran (ingin mendapat keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya lantaran dunia yang dikehendakinya atau lantaran perempuan yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang ia niatkan.”

(HR. Bukhari Muslim)

Belajar dan mencari ilmu ialah kiprah kewajiban yang harus dijalani setiap insan semenjak dari buaian hingga ke liang lahat. Karena intinya hidup kita badalah proses pembelajaran. Dan segala sesuatu yang kita capai dalam hidup ini, berawal dari sebuah proses pembelajaran. Ilmu yang kita pelajari akan membantu kita membuka pintu-pintu keberhasilan. Janganlah terlalu memaksakan diri dan tergesa-gesa mendobrak pintu tersebut, akan tetapi kita harus membukanya dengan penuh kesabaran.

Masa muda yang kita miliki ketika ini merupakan masa yang paling efektif untuk belajar, teruslah motivasi diri untuk terus mencar ilmu dengan penuh semangat. Jangan hingga masa muda kita habiskan dan terbuang percuma oleh hal-hal yang kurang bermanfaat yang menyebabkan kita malas untuk belajar. Imam Syafi'i berpesan: "Pergilah, kau akan mendapat pengganti dari yang kau tinggalkan. Bersungguh-sungguhlah, lantaran nikmat hidup ada pada kesungguhan." Pesan bijak ini mengisyaratkan kita untuk pergi guna mencari ilmu. Kita akan memperoleh ganti yang lebih besar dengan meninggalkan zona nyaman kita. Dengan syarat, kita harus istiqomah dan bersungguh-sungguh.

Menggunakan waktu dimasa muda untuk mencar ilmu terkadang memang terasa begitu amat berat, mengingat di masa-masa inilah kita sangat rentan terkena aneka macam godaan dan rintangan. Namun bila kita bisa menahan diri dari godaan-godaan tersebut, maka kelak di usia dewasa, kita akan menyadari dan sangat bersyukur lantaran sudah mencar ilmu dengan keras di usia muda. Dalam hidup kita yang hanya sebentar ini, amatlah rugi kalau kita hanya bersantai-santai saja tanpa mau berusaha mencari ilmu dan pengalaman. Dale Carnegie mengatakan: "Jika anda ingin menaklukkan rasa takut, jangan berpangku tangan di dalam rumah dan membisu di depannya. Pergilah keluar, temui banyak orang, dan buatlah diri anda sibuk."

Kita harus menyadari bahwa tiada kata henti menuntut ilmu. Bahkan Rasulullah pun setiap hari berdoa semoga senantiasa ditambah ilmunya oleh Allah. Salah satu yang menyebabkan ilmu kita bertambah dan bermanfaat ialah dengan mengajarkannya kepada orang lain. Semakin banyak kita membagikan ilmu, maka semakin bertambah pula ilmu itu. Dan bila kita tidak pernah membagikannya kepada orang lain, bisa jadi ia akan mulai lupa dan pada hasilnya menghilang bersamaan dengan datangnya ajal yang menjemput kita.

Orang-orang yang cerdik mempunyai derajat yang sangat istimewa di sisi Allah baik di dunia maupun di akhiratnya. Sungguh amat jauh perbedaan antara orang yang cerdik dengan orang yang tidak berilmu. Orang yang benar-benar cerdik biasanya justru tidak merasa kalau ia berilmu. Karena ia tidak lagi membutuhkan klaim atau reputasi. Ilmu yang terpancar dalam sikap hidupnya sehari-hari telah cukup untuk menawarkan bahwa ia ialah orang yang berilmu. Seperti peribahasa “Seperti padi, semakin berisi semakin merunduk”.

Comments

Add Your Comment
EmoticonEmoticon