10/09/2015

Monster Kampung Dan Bola Hijau (Cerpen)

 Aku pribadi bergegas mengambil kelereng dan meninggalkan sahabat Monster Kampung dan Bola Hijau (CERPEN)
“Dedek..., ayo pulang”
 “Iya Umi” sahutku membalas panggilan Umi.
Aku pribadi bergegas mengambil kelereng dan meninggalkan teman-temanku.
“Hei Saddam ! itu punyaku” teriak Wahyu, keningnya menampakkan
lipatan-lipatan ombak.
Tanpa sengaja saya mengambil kelereng milik Wahyu.
“Ini, maaf” Aku melempar dua buah kelereng warna putih susu dari kejauhan.
Hari itu langit sore terlihat kemerah-merahan, jingga. Kesibukan warga kampung mulai lengang. Yang terlihat hanya sebagian orang saja. Itupun mereka sedang menuju kerumah masing-masing. Ku lihat juga Mbah Karno sedang menutup warungnya. Sering kali saya ke warungnya hanya untuk mendengarkan kisah rakyat negeri ini dari Mbah Karno. Cahaya matahari senja jatuh menimpa wajah Umi. Nampak berseri. Kuraih asisten Umi. Umi tersenyum lembut melihat tingkahku itu.
Selepas Sholat Magrib di masjid. Lazimnya bawah umur kampung, saya dan teman-temanku berguru mengaji. Entah kenapa suasana hati kami dikala ini cukup baik. Biasanya kami bolos dikala tibanya sabtu malam. Bermain petak umpet dibawah sinar rembulan, mencari kunang-kunang, mengambil buah jambu biji di kebun Haji Dolet yang saban hari Wahyu jatuh dari atas pohon yang cukup tinggi sempat menciptakan dirinya tak sadarkan diri. Kami semua dibentuk panik. Dengan sigap kami semua mendekati Wahyu. Entah apa yang harus kami perbuat. Hening. Selang beberapa menit ia bangkit. “Haaa...!,haaaa...!!” dengan bunyi berat dan gemetar. Itu kalimat pertama yang dikeluarkan dari lisan Wahyu. Diulang-ulangnya sambil kedua tangannya menjulur kedepan. Matanya melotot. Kalang kabut kami dibuatnya. Berlari tak tentu arah melihat tingkah gila Wahyu. Mungkin yang kami fikirkan waktu itu Wahyu sudah kerasukan Setan Alas. Aku berteriak minta tolong. Tak sengaja saya menengok ke belakang. Kulihat Wahyu tertawa lebar. Terbahak-bahak melihat kami yang ketakutan. Sialan! umpatku dalam hati.
Besok Bulan Syaban meninggalkan kampung kami. Serba-serbi menyambut bulan nan suci sudah usang terlihat di kampung ini. Dimulai spanduk ucapan selamat menunaikan ibadah puasa dari instansi dan para calon legislatif yang terpasang di setiap lorong. Iklan-iklan sirup di televisi yang begitu menarik hati tidak pernah bolos untuk satu bulan kedepan. Tak ketinggalan juga ketua masjid kami, Haji Dolet dan pengurus lainnya sedang mempersiapkan kemudahan untuk warga kampung yang akan menunaikan Shalat Taraweh malam nanti. Dan kami sibuk berdiskusi menyusun planning untuk malam nanti.
Mbah Karno sudah berdiri paling depan menghadap kiblat. Siap memimpin Shalat Isya. Sejenak melihat ke kanan ke kiri. Jemaah sudah berjejer rapi. Masjid padat disesaki jemaah. Sementara saya dan teman-teman masih asyik berwudhu.
“Allahu Akbar...”
Shalat Isya segera dimulai. Kami segera berlarian masuk ke masjid dengan pakaian yang basah. Bukan alasannya wudhu. Tetapi alasannya bermain perang air dari keran masjid. Lalu berdiri di shaf paling belakang. Tidak butuh menunggu hingga empat rakaat selesai, kami sudah merencanakan sesuatu. Aku melirik Wahyu dan teman-temanku yang lain. Rencananya pun cukup sederhana. Secepat mungkin keluar dan selama itu pula kami bermain. Aku pun mengendap-ngendap keluar disusul Wahyu dan temanku yang lain . Saat jemaah sedang takhiyat awal, langkah kami pun sudah keluar dari masjid. Bermain di lapangan dekat kebun Haji Dolet merupakan daerah yang pas berdasarkan kami untuk bermain bola kasti. Jika kami lelah bermain, kami tak segan-segan mengambil buah yang berada di kebun Haji Dolet. Kebunnya yang luas dengan majemuk buah. Kami fikir tak akan habis bila kami memetik sekedar satu-dua buah saja. Akan tetapi, yang kami takutkan ialah jikalau mendekati sebuah rumah renta berbentuk panggung dan berdinding kayu dengan dilatarbelakangi hutan lebat. Tidak jauh dari kebun. Pernah kami mendengar kisah warga kampung, disana ada penunggunya. Monster. Orang-orang biasa menyebutnya monster. Nekat kesana berarti sama saja menyambut mimpi buruk. Melewatinya saja kami harus terpaksa menutup mata. Tidak ingin melihat apa yang diceritakan orang-orang.
Permainan pun dimulai. Dimana kami harus mengambil bola berwarna hijau yang seukuran tangan kami dengan cara memperebutkannya. Setelah bola ditangan, secepat mungkin bola itu harus mengenai anggota tubuh salah satu pemain.
“Rasakan ini!” teriak Wahyu dikala menerima bola.
Dengan ancang-ancang sekuat tenaga ia melemparkan bola di tangannya ke arahku yang sedang berlari menjauh. Seketika bola itu lepas dari tangan Wahyu. Bola itu kini sudah diatas angin. Sepersekian detik sudah menuju di kepalaku. Bukk. Suara itu terdengar di kepalaku.
“Aduh...” pekikku mengaduh. Sambil memegang kepala menahan rasa sakit kemudian berusaha mencari bola yang memantul dari kepalaku tadi.
“Disana Dam” Wahyu menunjuk kearah rumah terlarang itu.
Aku pribadi menuju kesana. Tanpa disadari, saya sudah di depan pintu  rumah renta itu. Tampak gelap alasannya tidak ada penerangan lampu. Walaupun ukuran rumahnya kecil tapi terlihat tidak terawat. Rumput tumbuh dengan leluasa, menambah kesan angker. Aku lupa akan kisah yang menjadi momok menakutkan untuk usia kami.
Kakiku berat seketika. Aku merasa kaki ini tertancap ke dalam tanah. Aku mengelap keringat di dahi. Melihat saya bengong dan membisu, Wahyu dan teman-teman yang lain berlarian mendekat. Mungkin gres sadar dan tahu persis apa yang membuatku berdiam diri disana. Sekarang kami sama-sama terdiam.
“Bagaimana nih, bolanya pas banget didepan pintu sana” cemasku, sambil menunjuk bola.
 Kami semua menghela nafas panjang. Saling menatap. Tak tahu apa yang kami harus lakukan sekarang.
 Kreek.. ibarat ada orang yang akan membukakan pintu.  Kami melihat kurang jelas sosok di dalam gelap. Makin usang makin tampak ibarat tangan manusia. Desiran jantung berdetak kencang sangat terperinci terdengar. Suhu udara tiba-tiba menjadi lebih masbodoh dari sebelumnya. Bulu tangan ini berdiri. Seakan sebuah isyarat bahwa kami harus pergi dari daerah ini. Tanpa fikir panjang kami pribadi berlari.
“Monster.....!! monster.....!!!” teriak kami bergantian.
Tanpa di beri arahan lagi kami serentak kembali masuk ke masjid. Duduk dibarisan belakang. Nafas kami masih tersenggal-senggal. Tak percaya apa yang kami lihat tadi.
Tiba di penghujung rangkaian Sholat Taraweh. Aku bergegas kedepan mengikuti antrian. Antrian salam-salaman. Di mulai dari Mbah Karno. Sampailah ke tangan Abi. Abi melihatku bermandikan keringat. Mungkin Abi sudah tahu kalau anak tunggalnya ini niscaya habis bermain.
Keesokan harinya. Puasa perdana untuk warga kampung. Termasuk juga aku. Walaupun dikala sahur tadi Umi susah payah untuk membangunkanku.
Matahari pagi tak dekat dengan kami. Sinarnya menyengat kulit. Kata orang-orang terdahulu sinar matahari pagi menyehatkan. Walaupun masih terbilang pagi.
Kami sudah berkumpul di lapangan. Sudah satu jam hanya duduk-duduk saja. Memikirkan bagaimana mengambil bola hijau itu tanpa terlihat monster.
Wahyu tak terima bila bola hijau kesayangannya harus hilang. Jadi, inilah alasan semenjak jam 9 pagi tadi Wahyu bersusah payah menjemput kami semua hanya untuk mengambil bola hijaunya.
Dengan sangat hati-hati kami meluncur ke rumah renta itu. Layaknya pahlawan-pahlawan pendekar yang siap melenyapkan monster. Di pimpin pribadi oleh Wahyu. Kayu, kerikil hingga ranting pohon sudah siap kami genggam. Panas matahari seakan tidak ketinggalan menyambut langkah kami. Sesampai di depan rumah kulihat tidak ada aktifitas yang mencurigakan di dalam sana.  Kami melihat dengan heran, bola hijau tidak ada lagi di depan pintu. Kami mendekat dengan pelan-pelan. Mata ini kolam elang yang siap menerkam buruannya. Tak terlewatkan setiap sekitar rumah monster kami jelajah, kalau saja bola hijau malam tadi sudah pindah tempat. Tangan masih memegang alat tempur. Akhirnya kami hingga bab dapur rumah itu yang berada dibelakang rumah. Ada sekatnya menyakinkanku bahwa itu juga wc si monster itu. Kulihat disana juga ada baskom yang berisikan air. Aku bersama yang lainnya memberanikan diri untuk masuk ke dapur monster itu. Aku milirik ke Wahyu dan yang lainnya.
“Dam, saya takut nih kita pulang saja yuk”cemas Wahyu. Kulihat kakinya sudah gemetar.
“Jangan takut, mana ada monster di siang hari, apalagi ini Ramadan kan” kataku menenangkan suasana.
Belum sempat kami melangkah lebih jauh, tiba-tiba kami dikejutkan dengan bunyi tumpukan botol dan kaleng.
“Ini yang kalian cari kan?” tanya orang itu sambil menawarkan bola hijau Wahyu.
Pelan-pelan kami melihat dari ujung kaki. Kakinya sama ibarat insan biasa pada umumnya. Kami telusuri hingga keatas. Badannya kurus dan sekitar kulitnya yang hitam terdapat bintik-bintik merah. Pakaiannya lucek dan penuh sobekan. Sampai kami melihat ada benjolan daging yang bergantung di pipi kanan wajahnya. Rambutnya gimbal.
“Lari......” teriak Wahyu.
Kami serentak lari tunggang langgang. Meninggalkan monster dan bola hijau. Kaki hingga seluruh tubuh yang gemetar pun tak jadi halangan untuk berlari sekencang-kencangnya. Alat tempur yang kami bawa pun tak tahu lagi rimbanya. Tanpa memikirkan Wahyu dan temanku yang lainnya saya menuju ke rumah.  Umi melihatku masuk tanpa mengucapkan salam kemudian melihatku pribadi masuk ke kamar. Mengambil selimut dan menutupi seluruh badanku. Bukannya semakin membaik malah semakin gemetar hingga keringat keluar dengan derasnya. Umi pribadi masuk kamar kemudian menanyakan wacana keadaanku sekarang. Aku hanya sanggup diam saja. Tidak menjawab setiap pertanyaan Umi.
Hari itu warga kampung gempar. Orangtua dari enam anak di kampung mengalami keadaan yang aneh. Seharusnya hari pertama menyambut bulan suci dengan bersuka cita menjadi riuh di buat oleh kami. Kami di kumpulkan di  rumah Mbah Karno. Sebagai tokoh masyarakat dan tokoh agama di kampung ini. Beliau lebih paham persoalan yang menimpa kami. Dilihatnya satu-persatu. Lalu kami diberi minum yang telah dibacakan do’a-do’a. Kata Mbah Karno kami hanya mengalami ketakutan yang berlebihan saja. Tidak ada sesuatu hal yang membahayakan kami.
Semenjak bencana itu, tiba gosip baik dan gosip buruk. Berita buruknya tiba untukku dan teman-temanku yang lain. Jatuh sakit selama tiga hari. Dan gosip baiknya tiba untuk Haji Dolet. Karena kami berjanji dalam hati tidak akan berani lagi bermain di sekitar kebunnya.
Bagaimana kabar bola hijau Wahyu? Ya bola hijau dan monster sama-sama kami lupakan. Mengingat bola hijau sama halnya mengingat monster itu juga.


TENTANG PENULIS
 Aku pribadi bergegas mengambil kelereng dan meninggalkan sahabat Monster Kampung dan Bola Hijau (CERPEN)
Angga Karlianto, lahir di Lubuklinggau, Sumatera Selatan, pada tanggal 20 Januari 1995. Penulis yaitu alumni Madrasah Aliyah Negeri 2 Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Saat ini, tercatat sebagai mahasiswa semester selesai Jurusan Sistem Informasi, Fakultas Sains dan Teknologi di Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang.
Saat ini, penulis masih aktif mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa Kampus (UKMK) LDK Refah UIN Raden Fatah Palembang sebagai anggota Departemen Media.
Penulis sanggup dihubungi melalui hp: 08972004170, email: anggakarlianto@gmail.com
Comments

Add Your Comment
EmoticonEmoticon