3/22/2016

Bagaimanakah Ibadah Qurban Ditinjau Dari Segi Komunikasi?

Bagaimanakah Ibadah Qurban Ditinjau Dari Segi Komunikasi Bagaimanakah Ibadah Qurban Ditinjau Dari Segi Komunikasi?
Perayaan Idul Adha oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia tak sanggup dipisahkan dengan ibadah haji dan qurban. Tentu kita semua sudah tak gila dengan ibadah qurban yang dilaksanakan setiap tahun pada perayaan Idul Adha. Ibadah qurban merupakansalah satu ibadah tertua yang disyariatkan Allah SWT, juga dikenal dengan ibadah “syar’u manqoblana” yang artinya ialah syariat yang sudah diwajibkan sebelum ummat Nabi Muhammad SAW.

Segala sesuatu yang diperintahkan Allah SWT tentu mempunyai pesan yang tersirat dan pelajaran di dalamnya, begitupun ibadah qurban. Kandungan qurban tidak hanya sekedar mengalirkan darah binatang yang disembelih, tidak hanya memotong binatang qurban, tetapi lebih dari itu, berqurban merupakan bentuk ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT untuk benar-benar menerima ridha-Nya. Kurban ialah wujud dedikasi seorang hamba kepada Allah untuk turut serta memperlihatkan kebahagiaan kepada saudara seiman lain. Tidaklah berlebihan bagi sebagian orang mengganggap berat untuk melaksanakan ibadah lintas generasi ini, namun akan terasa ringan apabila dilaksanakan oleh hamba yang benar-benar menyadari bahwa semua yang beliau miliki merupana titipan Allah SWT.

Lalu bagaimanakah ibadah qurban jikalau ditinjau dari segi komunikasi? Apakah qurban dipandang hanya merupakan ritual keagamaan semata yang tidak ada kaitanya dengan komunikasi? Tentu saja tidak demikian, qurban merupakan komunikasi simbolik.

Simbol merupakan sesuatu yang tak sanggup dipisahkan dari setiap proses komunikasi. Hampir seluruh pernyataan dan tingkah laris insan baik yang ditujukan untuk kepentingan dirinya, maupun untuk kepentingan orang banyak selalu dinyatakan dalam bentuk simbol. Hubungan antara pihak-pihak yang ikut serta dalam proses komunikasi banyak ditentukan oleh simbol atau lambang-lambang yang dipakai dalam berkomunikasi.

Seorang penyair yang mengagumi sekuntum bunga, akan mengeluarkan pernyataan lewat bahasa “alangkah indahnya bunga ini”, ataukah seorang polisi lalau lintas yang tidak bisa bangun terus dipersimpangan jalan, peranannya sanggup digantikan lewat rambu-rambu jalan atau lampu pengatur lalu-lintas (traffic light). Simbol merupakan hasil kreasi insan dan sekaligus memperlihatkan tingginya kualitas budaya insan dalam berkomunikasi dengan sesamanya.

Simbol sanggup dinyatakan dalam bentuk bahasa mulut atau tertulis (verbal) maupun melalui isyarat-isyarat tertentu (non verbal). Simbol membawa pernyataan dan diberi makna oleh penerima. Proses proteksi makna terhadap simbol-simbol yang dipakai dalam berkomunikasi, selain dipengaruhi faktor budaya, juga faktor psikologis, terutama pada dikala pesan ditafsirkan oleh penerima, begitu juga dengan Ibadah Qurban yang menjadi komunikasi simbolik yang bermain pada tataran symbol dengan mengorbankan binatang yang dimaknai sebagai komunikasi vertikal seorang hamba sebagai wujud syukur dan kepatuhan terhadap sang pencipta serta komunikasi horizontal sebagai wujud kepedulian sosial yang tinggi antar sesama.

Menurut Ali Syariati, intelektual asal Iran, bencana qurban sarat akan makna simbolik, dan termasuk didalamnya ialah proses komunikasi, di antaranya menghargai harkat martabat insan untuk tetap hidup dan menekankan kehidupan sosial sebagai wujud kepasrahan yang total kepada Allah SWT. Namun, dalam segala perwujudannya, dulu dan sekarang, makna qurban telah bergeser menjadi sebuah tradisi ritual belaka yang tidak mempunyai nilai apa-apa. Memaknai komunikasi simbolik ibadah qurban bisa dilihat dari pemahaman akan makna simbolik qurban itu sendiri, diantaranya:

Baca Juga:

Pertama, dalam ibadah qurban yang menjadi simbolnya ialah mengorbankan binatang ternak. Mengagapa binatang ternak yang harus diqurbankan? Disini bisa dipentik makna bahwa Islam berupaya mengkomunikasikan kepada insan memakai simbol-simbol universal berupa binatang yang dipahami sebagai simbol kejahatan, keburukan dan kerakusan yang akan berimplikasi kepada kehancuran dan kebinasaan. Melalui momentum ibadah qurban ini Islam melaksanakan komunikasi universal kepada umat insan bahwa dengan memotong binatang ternak dibutuhkan sifat-sifat dan huruf kebinatangan yang terdapat dalam diri insan bisa terkikis seiring dengan lenyapnya darah dari binatang tersebut.
Kedua, meninggikan harkat martabat manusia. Momentum qurban ini tidak bisa dipahami sebagai ibadah ritual belaka yang gersang akan makna. Dalam nuanasa Idul Adha ini Islam mengkomunikasikan kepada sekalian alam bahwa ini ialah wujud kepasrahan (tawakkal) Nabi Ibrahim secara totalitas kepada Allah SWT. Bahkan lebih dari itu, qurban mempunyai makna pembebasan insan dari sifat-sifat kebinatangan, dari kesemena-menaan dan kesewenang-wenangan terhadap manusia. Ali Syari’ati menjelaskan bahwa ketika Allah SWT mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba, tersirat pesan kepada insan supaya tidak lagi menginjak-injak harkat martabat kemanusiaannya.
Ketiga, Islam ialah agama yang damai. Meminjam apa yang pernah disampaikan oleh Mohammad Asrori Mulky bahwa melalui ibadah qurban, Islam ingin mengkomunikasikan secara simbolik bahwa Tuhannya Ibrahim bukanlah Tuhan yang haus darah dan suka berperang. Dia ialah Tuhan yang ingin menyelamatkan dan membebaskan insan dari tradisi yang tidak menghargai insan dan kemanusiaan, dan dari tradisi yang suka mempersembahkan nyawa insan untuk para ilahi dan roh suci. Dia ialah Tuhan yang ingin menyelamatkan insan dari tradisi yang sering menumpahkan darah kepada tradisi yang penuh dengan rahmat dan anugerah.
Keempat, kesalehan sosial. Dalam qurban, menyerupai juga zakat, haji, puasa dan shadaqah, terkandung di dalamnya nilai-nilai sosial dan kemanusiaan. Islam ialah agama yang tidak sanggup dipisahkan dari dimensi sosialnya. Dalam konteks ini, ibadah qurban dihentikan hanya dipahami sebagai upaya untuk mencapai kemaslahatan ukhrowi belaka, tapi lebih dari itu bertujuan untuk terciptanya kemaslahatan dan kebaikan duniawi. Karena setiap pensyariatan dalam Islam, terkandung tujuan syariat (maqhasid as-syari’ah), yaitu tercapainya kemaslahatan dan kebaikan bagi umat insan di dunia dan akhirat. Sehingga tidak berlebihan bahwa ibadah qurban akan mewujudkan kesalehan sosial bagi pelakunya.
Kelima, keadilan sosial. Kalau kita coba kaitkan ibadah qurban dengan fenomena sosial di negara kita, Indonesia, sebetulnya duduk kasus paling fundamental yang sedang kita hadapi ialah duduk kasus kemiskinan dan ketidakadilan. Kita melihat, kemiskinan lebih banyak dirasakan orang, sementara kekayaan hanya dicicipi segelintir orang. Karena itu, duduk kasus utama yang harus kita perjuangkan ialah bagaimana kita bisa menegakkan keadilan dalam struktur sosial. Kalau duduk kasus itu yang kita hadapi, maka relavansi Idul Qurban dikala ini ialah mewujudkan keadilan sosial diantara manusia, memberantas kemiskinan, sehingga kekayaan tidak menumpuk pada sekelompok orang saja. Inilah komunikasi simbolik pedoman Islam dalam tataran keadilan sosial.

Meminjam pendapat Mohamad Asrori Mulky yang menyampaikan ada dua hal yang penting terkandung di dalam ibadah qurban. Pertama, semangat ketauhidan atau keesaan Tuhan yang tidak lagi membeda-bedakan insan yang satu dengan lainnya. Di sini juga terkandung pesan pembebasan insan dari penghambaan kepada selain Allah, menyerupai para ilahi dan roh jahat. Kedua, qurban juga sanggup diletakkan dalam kerangka penegakan nilai-nilai kemanusiaan, menyerupai menyantuni fakir-miskin, saling membantu tanpa dilatarbelakangi kepentingan-kepentingan di luar pesan ketuhanan itu sendiri.

Ibadah qurban pertama kali diperintahkan kepada Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail AS, keduanya ialah sosok yang penuh teladan baik bagi orang renta maupun anak. Ketika kenakalan dewasa meningkat, penting bagi orang renta memikirkan gaya berkomunikasi dengan anak-anaknya. Sebetulnya, orang renta bisa menggandakan gaya komunikasi nabi Ibrahim dengan anaknya. Gaya komunikasi nabi Ibrahim yang dimaksud ialah menyerupai yang diabadikan dalam Al-Quran surat Ash-Shafat ayat 102. Meskipun begitu gaya komunikasi ini berlaku universal dan bisa ditiru oleh orang renta lintas keyakinan.

Surat Ash-Shafat ayat 102 bercerita wacana obrolan nabi Ibrahim dengan anaknya Ismail wacana penyembelihan (kurban). Saat itu, Ibrahim menyampaikan bahwa ia bermimpi melihat dirinya menyembelih si anak (Ismail). Dalam pedoman Islam, ayat inilah yang dijadikan dalil untuk melaksanakan penyembelihan (kurban) pada hari raya Idul Adha.Mari kita perhatikan surah Ash-Shaffat ayat 102 yang menceritakan obrolan antara nabi Ibrahim dengan anaknya, Ismail. Redaksi ayat diterjemahkan sebagai berikut, “Maka tatkala anak itu hingga (pada umur sanggup) berusaha bahu-membahu Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Hai anakku, sebetulnya saya melihat dalam mimpi bahwa saya menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?’ Ia menjawab, ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Yang dipakai untuk menjelaskan ayat ini ialah memakai analisa wacana pragmatik yang kerap dipakai dalam studi bahasa dan komunikasi. Analisa wacana ialah studi wacana struktur pesan dalam komunikasi. Sementara pragmatik ialah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yaitu bagaimana satuan bahasa itu dipakai di dalam komunikasi. Dengan definisi ini, maka analisa wacana pragmatik sanggup diartikan sebagai telaah mengenai makna dan fungsi bahasa dalam proses komunikasi.

Topik pembicaraan antara Ibrahim dan Ismail ialah mimpi Ibrahim. Dalam mimpi itu, Ibrahim melihat dirinya menyembelih anaknya sendiri. Dalam obrolan Ibrahim meminta anaknya memikirkan mimpi itu. Tetapi tanggapan yang muncul dari Ismail ialah meminta Ibrahim melaksanakan perintah Allah. Mari kita perhatikan dialognya.

Ibrahim berkata, “Hai anakku Sesungguhnya saya melihat dalam mimpi bahwa saya menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu?”
Ismail menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Ibrahim sama sekali tidak menyampaikan bahwa Allah memerintahkan dirinya untuk menyembelih Ismail. Tetapi Ismail memaknai mimpi yang diceritakan ayahnya itu wahyu Allah untuk menyembelihnya. Maka timbul pertanyaan mengapa Ismail begitu percaya bahwa dongeng ayahnya ialah wahyu dari Allah? Dalam kajian komunikasi, peserta pesan (komunikan) percaya kepada penyampai pesan (komunikator) apabila komunikator mempunyai dapat dipercaya tinggi. Everett M Rogers (1983) menyampaikan dapat dipercaya ialah tingkat di mana komunikator dipersepsi sebagai suatu kepercayaan dan kemampuan oleh penerima. Menurut Alexis S Tan (1981) dapat dipercaya sumber terdiri dari dua unsur, yaitu keahlian dan kepercayaan. Keahlian diukur dengan sejauh mana komunikan menganggap komunikator mengetahui tanggapan yang benar, sedangkan kepercayaan dioperasionalisasikan sebagai persepsi komunikan bahwa komunikator tidak memihak dalam penyampaian pesan.

Dua hal tersebut dimiliki Ibrahim, sehingga ia menjadi seorang komunikator dengan dapat dipercaya tinggi di hadapan anaknya, Ismail. Merujuk al-Quran, diceritakan banyak bencana yang menandakan Ibrahim ialah orang yang berstatus nabi. Mulai dari pertentangannya dengan ayahnya sendiri, hingga kemudian Ibrahim dibakar oleh Raja Namrud. Peristiwa hijrahnya ke Mekkah, juga berkaitan dengan posisinya sebagai Nabi. Peristiwa tersebut juga diketahui Ismail sebagai seorang anak. Hal itulah yang mengokohkan posisi Ibrahim di mata Ismail. Sehingga ketika Ibrahim menceritakan mimpi, Ismail eksklusif memahami maksud sang ayah.Proses komunikasi akan berlangsung efektif, jikalau komunikator dan komunikan mempunyai kesamaan. Wilbur Schramm menyebut ada dua kesamaan yang menciptakan komunikasi efektif, yaitu frame of reference (kerangka acuan) dan filed of experience (bidang pengalaman). Schramm menyatakan bahwa filed of experience atau bidang pengalaman merupakan faktor yang amat penting untuk terjadinya komunikasi. Apabila bidang pengalaman komunikator sama dengan bidang pengalaman komunikan, komunikasi akan berlangsung dengan lancar. Sebaliknya jikalau pengalaman komunikan tidak sama dengan pengalaman komunikator, akan timbul kesukaran untuk mengerti satu sama lain, atau dengan kata lain situasi menjadi tidak komunikatif. (Effendy,2003:30-31).

Merujuk ke surah Ash-Shafat ayat 102 itu, disebutkan bahwa ada kesamaan pengalaman dan pengetahuan antara Ibrahim dan Ismail. Hal itu sanggup dilihat dari redaksi awal ayat, “Maka tatkala anak itu hingga (pada umur sanggup) berusaha bahu-membahu Ibrahim….”. Ada dua hal yang ditunjukkan dari redaksi ayat ini. Pertama, usia Ismail dikala itu berada pada usia memahami perkataan dan bencana dengan baik. Kedua, Ibrahim dan Ismail melaksanakan aneka macam macam acara bersama. Walau dalam ayat tersebut tidak diceritakan secara detil bentuk usaha/ acara yang dilakukan keduanya.Tujuan yang ingin dicapai Ibrahim dalam proses komunikasi ialah kerelaan Ismail untuk “dikorbankan”. Selain itu, Ibrahim berharap Ismail mengetahui bahwa “penyembelihan” itu sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Dua sasaran yang ingin dicapai Ibrahim dalam komunikasi itu berhasil terpenuhi. Hal itu disebabkan, kesamaan frame of reference (kerangka acuan) dan filed of experience (bidang pengalaman). Kondisi itu juga ditopang dengan usia Ismail dikala itu yang bisa berfikir dengan baik.

Tan menyebutkan unsur dapat dipercaya ialah kepercayaan. Komunikan percaya komunikator tidak memihak dalam penyampaian pesan. Saat berdialog dengan Ismail, kalimat yang disampaikan Ibrahim tidak memperlihatkan bahwa bencana penyembelihan itu untuk kepentingan Ibrahim. Kalimat yang disampaikan Ibrahim hanya menceritakan mimpi apa adanya. Ibrahim tidak menambahkan keterangan pada mimpi itu sebagai wahyu dari Allah. Kalimat itu berupa, “Hai anakku Sesungguhnya saya melihat dalam mimpi bahwa saya menyembelihmu”. Kepercayaan Ismail kepada Ibrahim semakin menguat ketika Ibrahim meminta pendapat Ismail wacana perisitiwa itu dengan kalimat, “Maka fikirkanlah apa pendapatmu?”Kepercayaan Ismail itu muncul lantaran kesamaan pengalaman dan pengetahuan antara Ibrahim dan Ismail. Peristiwa yang dialami bersama, menciptakan Ismail menempatkan Ibrahim sebagai seseorang yang melaksanakan sesuatu semata-mata lantaran perintah Tuhan. Ismail percaya ayahnya tidak mempunyai kepentingan pribadi, kecuali semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Dengan pemahaman menyerupai itu, Ismail juga harus mengerjakan perintah Tuhan, lantaran Ismail juga mengakui dirinya sebagai hamba Allah.

Dari uraian di atas, sanggup diambil point-point sebagai contoh dalam berkomunikasi kepada anak sebagai berikut:
Pertama, orang renta hendaknya selalu melaksanakan acara bersama sehingga terbentuk kesamaan frame of reference (kerangka acuan) dan filed of experience (bidang pengalaman) antara orang renta dan anak.
Kedua, menyelaraskan antara perkataan dan perbuatan. Hal inilah yang akan meningkatkan dapat dipercaya orang renta di mata anak. Tan menyebutkan dapat dipercaya ialah evaluasi komunikan terhadap komunikator bahwa komunikator mempunyai pengetahuan dan tidak memihak atas pesan yang disampaikan. Penilaian komunikan ini bisa terwujud jikalau komunikator (orang tua) menyelaraskan antara perkataan dengan perbuatanya.
Ketiga, menyesuaikan pesan/informasi yang disampaikan kepada anak sesuai dengan usia sang anak. Seringkali, orang renta tidak menyesuaikan perkataan (informasi) yang disampaikan dengan usia anak. Kondisi ini menciptakan anak tidak bisa menalar pesan yang disampaikan dengan baik. Hasilnya, tujuan komunikasi tidak akan tercapai.

Ketiga point di atas hendaknya bisa menjadi contoh para orang renta dalam berkomunikasi kepada anaknya. Jika hal ini dilakukan, komunikasi yang dilakukan niscaya akan berhasil. Hal itu telah dibuktikan oleh Ibrahim. Pertanyaan adalah, apakah orang renta bisa mengikuti gaya komunikasi yang dicontohkan Ibrahim itu?



Sumber:
https://www.dakwatuna.com/2014/04/15/49631/meniru-gaya-komunikasi-ibrahim-analisa-wacana-pragmatik-surat-ash-shafat-ayat-102/#ixzz4rPAwM4fx
https://uin-suska.ac.id/2017/08/29/komunikasi-simbolik-ibadah-qurban/
Comments

Add Your Comment
EmoticonEmoticon