Saya Dan Pistol Mainan (Lucu, Konyol Namun Penuh Arti)
![]() |
| Sumber Gambar: Aktual.com |
Setiap orang tentu punya kisah masa kecil yang berbeda-beda. Namun kalau diingat-ingat banyak sekali moment tak terlupakan di masa kecil kita. Kadang kalau mengingat kejadian masa kecil kita merasa lucu, konyol namun semuanya penuh arti. Nah kali ini saya akan menceritakan pengalaman masa kecil saya dan pistol mainan. Seperti apa ceritanya?
Saat saya masih kecil, kalau saya mempunyai impian maka bagaimanapun caranya saya akan berusaha mewujudkan impian itu. Yah meskipun pada dikala itu impian saya bukanlah sesuatu yang besar, namun usaha untuk mewujudkanya sungguh menciptakan saya merasa malu. Mengapa? Karena tak jarang kini ini saya memupuskan impian dengan aneka macam alasan yang bahwasanya hanya melemahkan tekad saya untuk meraihnya.
Cerita ini berawal dikala usia saya kira-kira 9 tahun. Saat itu saya tengah duduk di kursi kelas tiga sekolah dasar. Saat itu sangatlah berbeda dengan sekarang, zaman kini apa saja serba gampang dan simpel dengan adanya aneka macam hal berbasis internet menyerupai toko online, transportasi online dan lainya.
Karena pada waktu itu lagi ngetrend banget mainan pistol-pistolan, sayapun ingin memilikinya menyerupai layaknya teman-teman saya yang lain. Kayaknya pada zaman itu kalau belum punya pistol mainan maka belum dinilai keren dan kekinian. Saya masih ingat dengan terang waktu itu tepatnya ialah hari ketiga lebaran idul fitri, dan keadaan dirumah sangat ramai dan penuh tamu yang sedang bersilaturahmi. Sehingga situasi dan kondisi tersebut tidak memungkinkan saya untuk mengajak orang bau tanah saya untuk pergi ke pasar membeli pistol mainan. Tahukah Sobat apa yang saya lakukan dikala itu?
Namanya juga bawah umur ya! Kalau lagi lebaran niscaya duitnya banyak, kata orang-orang di tempat kami bilang sanggup sangu. Nah, dikala itu saya juga kebetulan lagi tajir karena sangu hasil silaturahmi kesana-kemari. Akhirnya siang itu, saya tetapkan untuk pergi ke pasar sendirian tanpa ada yang menemani sama sekali. Padahal jarak dari rumah saya menuju ke pasar itu kurang lebih sekitar 4-5 kilometer.
Dengan tekad yang besar lengan berkuasa dan bermodalkan uang sangu saya berangkat menuju kepasar, yang saya pikirkan waktu itu ialah saya akan naik angkot untuk menuju kepasar. Karena pada waktu itu satu-satunya transportasi yang tersedia untuk menuju ke pasar dari rumah saya ialah angkot. Tak menyerupai kini yang udah banyak alternatif pilihanya termasuk angkutan online. Namun sayangnya hingga dikala ini di tempat rumah saya belum ada transportasi online lho Sob! Bahkan kini angkotpun tampaknya sudah sangat jarang.
Untuk sanggup naik angkot saya harus berjalan sejauh 200 meter menuju jalan raya dari rumah. Sayapun dengan semangat yang membara dan hati bangga berjalan kaki di tengah terik matahari. Sesampainya saya di jalan raya untuk naik angkot ternyata ada ujian yang datang. Karena saya belum pernah naik angkot sendirian saya tidak tahu bagaimana caranya memberhentikan angkot. Wah, saya tertawa geli kalau mengingatnya. Kaprikornus saya menunggu di pinggir jalanan yang panas namun tak ada satupun angkot yang berhenti menghampiri. Mungkin ini memang salah saya yang tak tau bagaimana tata cara naik angkot yang baik dan benar.
Saya sudah mencoba melambaikan tangan ketika ada angkot yang lewat, padahal umumnya cara ini cukup ampuh dipakai untuk memberhentikan angkot, namun ternyata tak berhasil. Saya malah di klaksonin aja sama angkotnya. Mungkin dikira anak iseng kali ya! Meskpun begitu tekad saya untuk membeli pistol mainan tak kendur sedikitpun. Cukup usang saya berusaha mencari angkot namun tak ada satupun yang berhenti, dan taukah sobat apa yang terjadi selanjutnya?
Dengan semangat usaha dan tekad yang membara sayapun berjalan kaki menuju kepasar yang jaraknya menyerupai yang sudah saya sebutkan sekitar 4-5 kilometer. Jika mengingatnya saya merasa geli dengan kepolosan atau mungkin alasannya ialah kebodohan saya dikala itu, namun saya memakluminya alasannya ialah dikala itu saya masih bawah umur yang polos dan lugu. Saya berjalan cukup usang namun saya tak tau berapa usang tepatnya yang saya pikirkan dikala itu hanya bagaimana caranya saya sanggup membeli pistol mainan yang saya inginkan, itu saja. Sungguh pemikiran yang simple, sederhana dan amat polos.
Setelah berjalan cukup usang dan keringatpun bercucuran sampailah saya di pasar, taukah sobat betapa bahagianya saya dikala itu? Saya sedikitpun tidak memikirkan bagaimana saya akan pulang nantinya. Karena yang ada difikiran saya dikala itu hanya membeli pistol mainan.
Dipinggiran pasar dikala itu ada banyak sekali pedagang yang menjual aneka macam mainan bawah umur termasuk pistol mainan. Tanpa pikir panjang saya eksklusif bergegas menuju penjual yang paling dekat. Saat itu yang saya inginkan ialah tipe pistol mainan dengan model semi otomatis layaknya di film-film. Saya merasa pemain film di film itu sangat keren ketika memakai pistolnya. Akhirnya tanpa pikir panjang saya membelinya, dikala itu harganya kalau tidak salah hanya 20 ribu saja. Namun dikala itu 20 ribu bukanlah uang yang kecil terutama bagi bawah umur ya sob!
Kurang lebih menyerupai gambar diataslah pistol mainan yang saya beli waktu itu. Dilihat dari bentuknya sih biasa aja ya Sobat! Tapi gres kini saya ngerti bahwa pistol mainan yang saya beli waktu itu sangat menyerupai atau bahkan sanggup disebut sebagai airsoft gun spring yang dikala ini banyak dijual di pasaran.
Nah sehabis saya membeli dan mendapat apa yang saya inginkan yaitu pistol mainan menyerupai gambar diatas, saya pun bergegas pulang. Nah klo tadi saya gak tau gimana caranya naik angkot kini itu tak lagi menjadi masalah. Karena di pasar banyak angkot yang mangkal buat cari penumpang. Sayapun bertanya kepada orang sekitar manakah angkot menuju rumah saya. Tak butuh usang sayapun mengetahui angkot ke arah rumah saya.
Dengan hati riang bangga saya menaiki angkot tersebut, sehabis menunggu tidak mengecewakan usang karenanya angkot tersebut mulai jalan. Senang banget rasanya. Namun ujian kembali datang, klo tadi saya tidak tau caranya naik, kini saya tidak tau caranya turun. Dan menyerupai orang kolot saya hanya membisu saja hingga kelewat dari tempat seharusnya saya turun. Karena tak ada orang yang turun sebelum saya , jadi saya tak tau harus berbuat apa. Untungnya sehabis sekitas 500 meter dari tempat seharusnya saya turun ada ibu-ibu yang turun, sayapun bergegas ikut turun. Alhamdulilah gak jauh-jauh amat.
Kini saya harus berjalan menuju rumah. Sesampainya dirumah apa yang terjadi? Saya hanya menyimpan pistol mainan yang gres saya beli di lemari, alasannya ialah dikala itu saya merasa lemari ialah tempat paling aman. Anehnya kenapa dikala itu saya tidak segera memainkanya tapi malah menyimpanya bahkan menyembunyikanya. Sepertinya bukan alasannya ialah takut dimarah orang bau tanah ya Sob, alasannya ialah saya eksklusif menceritakan petualangan seru saya membeli pistol mainan hari itu juga kepada orang tua. Saya sudah mencoba mengingat-ingat lagi alasanya namun hingga kisah ini saya poskan, saya belum menemukan alasan kenapa dikala itu saya eksklusif menyembunyikan pistol mainan yang gres saya beli, bahkan saya tak pernah membawanya untuk bermain bersama teman-teman. Jika Sobat tahu silahkan komentar ya!
Terima kasih sudah membaca ceritaku kali ini. Semoga ada pelajaran yang sanggup diambil dan semoga bermanfaat ya! Jangan lupa bantu share dan komentar supaya blog ini semakin baik.

