8/19/2018

Apa Perbedaan Akhlak, Moral, Etika Dan Kecerdikan Pekerti?


 dan mencegah perbuatan jahat dalam pergaulannya dengan Tuhan Apa Perbedaan Akhlak, Moral, Etika Dan Budi Pekerti?

Akhlak mengatur insan berbuat baik, dan mencegah perbuatan jahat dalam pergaulannya dengan Tuhan, manusia, dan makhluk sekelilingnya dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan nilai-nilai moral dan nilai-nilai norma agama. Sobat juga sanggup membaca artikel sebelumnya mengenai, Apa Itu Akhlakul Karimah?

Istilah budpekerti sering disamakan dengan istilah moral, etika dan budi pekerti, yang mana istilah-istilah tersebut memang mempunyai sifat yang sama yaitu memberi orientasi sebagai petunjuk kehidupan manusia.[1] Berikut ialah klarifikasi untuk membedakan istilah-istilah tersebut:

1. Moral

Moral secara etimologi berasal dari bentuk jamak yaitu mos yang berarti budbahasa kebiasaan. Sedangkan secara terminologi moral berarti suatu istilah yang dipakai untuk memilih batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak sanggup dikatakan benar, salah, baik, buruk. Dan yang dimaksud orang yang bermoral ialah yang dalam tingkah lakunya selalu baik dan benar. Tolak ukur moral ialah norma-norma yang tumbuh dan berkembang didalam masyarakat.[2]

Moral juga diartikan sebagai sesuatu yang sesuai dengan ide-ide yang umum diterima wacana tindakan insan yang baik dan masuk akal dan diterima oleh kesatuan atau lingkungan tertentu.[3] Moral berarti bagaimana seseorang mempunyai makna wacana bagaimana sikap yang sesuai dengan norma atau nilai yang diakui oleh individu atau kelompok. Nilai-nilai tersebut diyakini oleh masyarakat sebagai yang memperlihatkan impian munculnya kebahagiaan dan ketentraman. Nilai tersebut ada yang berkaitan dengan perasaan wajib, rasional, berlaku umum dan kalau nilai-nilai tersebut telah mendarah daging usang kelamaan akan muncul kesadaran moral.[4]

2. Etika

Menurut istilah bahasa etika berasal dari kata ethos yang berarti budbahasa istiadat (kebiasaan), sedangkan secara istilah etika ialah ilmu yang mempelajari tingkah laris insan untuk memilih nilai-nilai perbuatan baik buruk, sedangkan ukuran untuk menetapkan nilainya ialah nalar pikiran insan atau resio.[5]

Etika ialah suatu keseluruhan norma dan evaluasi yang dipakai oleh masarakat yang bersangkutan untuk mengetahui bagaimana insan seharusnya manjalankan hidupnya mengenai suatu cara yang rasional.[6]

Etika berfungsi sebagai penilai, penentu, penetap terhadap suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia, dengan demikian etika lebih berperan sebagai konseptor terhadap sikap yang dilakukan oleh manusia. Selain itu etika bersifat relatif yang sanggup berubah-ubah sesuai dengan tuntutan zaman.

3. Budi Pekerti

Budi pekerti juga sering dipakai sebagai istilah akhlak, yang mana budi diartikan sebagai alat batin untuk menimbang dan memilih mana yang baik dan buruk, budi ialah hal yang berafiliasi dengan kesadaran yang didorong oleh pedoman atau yang disebut karakter, sedangkan pekerti ialah perbuatan insan yang terlihat alasannya ialah terdorong oleh perasaan hati atau disebut juga dengan behavior.[7]

Selain itu dinyatakan bahwa budi pekerti berinduk pada etika, yang mana secara hakiki ialah perilaku, dan budi pekerti berisi sikap insan yang akan diukur berdasarkan kebaikan dan keburukanya melalui norma agama, norma hukum, tata krama dan sopan santun, norma budaya dan budbahasa istiadat masyarakat.


Hubungan antara budpekerti dengan etika, moral dan budi pekerti sanggup dilihat dari fungsi dan perananya yang sama-sama memilih aturan atau nilai dari satu perbuatan yang dilakukan oleh insan dari aspek baik dan buruknya, benar dan salahnya, yang sama- sama bertujuan untuk membuat masyarakat yang damai, tentram, sejahtera secara lahir dan batin.

Perbedaan dan keterkaitan antara budpekerti dengan etika, moral dan budi pekerti mempunyai sumber dan titik mulai yang bermacam-macam yaitu wahyu, akal, dan budbahasa istiadat atau kebiasaan.



Referensi:
[1] Ahmad Syukri, Dialog Islam dan Barat: Aktualisasi Pemikiran Etika Sutan Takdir Alisjahbana (Jakarta: Gaung Persada Press, 2007), hlm. 112.
[2] M. Solihin dan M. Rosyd anwar, Ahlak Tasawuf; Manusia Etika, dan Makna Hidup (Bandung; Nuansa, 2005), hlm. 29-30.
[3] Zahruddin AR dan Hasanudin Sinaga, Pengantar Study Akhlak, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 46.
[4] Amril M, Etika Islam Telaah Pemikiran Filsafat Maral Raghib Al Isfahani (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hlm. 18-19.
[5] Yatimin Abdullah, Penagantar Studi Etika (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), hlm. 4-8.
[6] Ahmad Syukri, op cit., hlm. 113.
[7] M. Shalihin dan M. Rosyid Anwar, op cit., hlm. 18.
Comments

Add Your Comment
EmoticonEmoticon